Sabtu pagi tanggal 29 Agustus 2015 saya berkesempatan mengunjungi rumah nutrisi La Tansa yang terletak di Japunan, Magelang. Klub Nutrisi itu dikelola oleh Ustadz Saiful Bahri (alumni Gontor tahun 2005) bersama dengan istrinya, Ustadzah Melva (alumni Gontor Putri tahun 2007, ISID tahun 2011).
Minggu, 30 Agustus 2015
Sabtu, 15 Agustus 2015
Benturan Budaya Ekonomi Syariah
Suatu ketika dosen saya yang juga menjabat sebagai seorang DPS salah satu BMT pernah menyampaikan keluh kesahnya. Audit BMT pada salah satu bulan tidak dilaporkan secara terperinci. Setelah ditanya kepada pengurus BMT yang bersangkutan, justru pengurus tersebut yang mengeluh. "Bagaimana ya pak, mbok-mbok di pasar itu memang tidak pernah mencatat pemasukan hariannya secara detail dan terperinci. Yang mereka katakan,"Sudahlah mas, gampangnya saja, berapa kewajiban saya membayar di akhir bulan nanti ?".
Di situ terlihat kultur masyarakat bila sudah berhadapan dengan bank atau lembaga keuangan. Sudah mendarah daging. Seolah mereka menyamakan saja semuanya seperti lintah, padahal tidak begitu adanya. Maka untuk mengakulturasi budaya ekonomi syariah di Indonesia memang harus sabar. Lagipula, watak dan sikap orang di tiap daerah berbeda bukan, terlebih jika sudah berkaitan dengan kulturnya. Jadi, ada masukan ?
Saatnya Bergerak Membeli Indonesia
Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN banyak pengamat ekonomi
memperkirakan Indonesia akan jadi bulan-bulanan Negara ASEAN. Lihat saja indeks
perdagangan yang terus merosot, sejalan dengan terpuruknya nilai rupiah
terhadap dollar dan mata uang lainnya. Kepungan negara tetangga dalam suatu
kerjasama yang didasarkan pada kepentingan bersama (padahal masing-masing punya
agenda tersendiri) memang layak disikapi bila tak ingin jadi penonton saja.
Sebab, berpangku tangan hanya akan menjadikan kita jongos dan babu, mental yang
selama ini kita punya.
Gerakan Beli Indonesia mengingatkan kita pada Syarekat
Dagang Islam di Indonesia. Bersatunya para pedagang batik di Solo merupakan
satu kekuatan besar. Apa yang terjadi bila kekuatan besar itu menjelma ?
Kiranya tak perlu meriam ataupun senjata untuk melawan serta mengusir musuh.
Ya, kini dengan boikot saja kaum lemah mampu menumbangkan kedigdayaan negeri
superpower.
Kita berharap gerakan ini adalah sebuah langkah nyata. Bukan
hanya wacana dan ajang kumpul-kumpul semata. Perjuangan di bidang ekonomi adalah
juga jalan jihad, jalan yang mulia. Pilar tegaknya bangsa disangga pula oleh
bidang ekonomi. Bila ekonominya kuat, maka bangsa itu akan tegak pula berdiri.
Langkah nyata tersebut tidak mesti berupa bantuan modal.
Sebagaimana alasan yang dikemukakan banyak anak muda yang ingin berwirausaha.
Terbentur dengan masalah modal. Gerakan ini harus mampu memberikan pemahaman
serta kesadaran ekonomi yang tinggi. Maka pembentukan pola pikir sangatlah
penting. Mendorong segenap rakyat untuk beralih dari sikap yang cenderung
konsumtif menjadi produktif. Mendidik warga untuk mengatasi segala kesusahan
dengan cara yang kreatif. Sehingga timbul optimisme yang berkelanjutan. Tidak
hanya sebatas bara di awal lalu padam jadi abu di akhirnya.
Jika Negeri Thailand berani berkata "We Will Feed
Asia" (Kami akan beri makan asia)
Semoga langkah bangsa Indonesia lebih nyata dari sekedar
kata-kata.
Langganan:
Komentar (Atom)