Sabtu, 15 Agustus 2015

Saatnya Bergerak Membeli Indonesia




Menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN banyak pengamat ekonomi memperkirakan Indonesia akan jadi bulan-bulanan Negara ASEAN. Lihat saja indeks perdagangan yang terus merosot, sejalan dengan terpuruknya nilai rupiah terhadap dollar dan mata uang lainnya. Kepungan negara tetangga dalam suatu kerjasama yang didasarkan pada kepentingan bersama (padahal masing-masing punya agenda tersendiri) memang layak disikapi bila tak ingin jadi penonton saja. Sebab, berpangku tangan hanya akan menjadikan kita jongos dan babu, mental yang selama ini kita punya.

Gerakan Beli Indonesia mengingatkan kita pada Syarekat Dagang Islam di Indonesia. Bersatunya para pedagang batik di Solo merupakan satu kekuatan besar. Apa yang terjadi bila kekuatan besar itu menjelma ? Kiranya tak perlu meriam ataupun senjata untuk melawan serta mengusir musuh. Ya, kini dengan boikot saja kaum lemah mampu menumbangkan kedigdayaan negeri superpower.

Kita berharap gerakan ini adalah sebuah langkah nyata. Bukan hanya wacana dan ajang kumpul-kumpul semata. Perjuangan di bidang ekonomi adalah juga jalan jihad, jalan yang mulia. Pilar tegaknya bangsa disangga pula oleh bidang ekonomi. Bila ekonominya kuat, maka bangsa itu akan tegak pula berdiri.
Langkah nyata tersebut tidak mesti berupa bantuan modal. Sebagaimana alasan yang dikemukakan banyak anak muda yang ingin berwirausaha. Terbentur dengan masalah modal. Gerakan ini harus mampu memberikan pemahaman serta kesadaran ekonomi yang tinggi. Maka pembentukan pola pikir sangatlah penting. Mendorong segenap rakyat untuk beralih dari sikap yang cenderung konsumtif menjadi produktif. Mendidik warga untuk mengatasi segala kesusahan dengan cara yang kreatif. Sehingga timbul optimisme yang berkelanjutan. Tidak hanya sebatas bara di awal lalu padam jadi abu di akhirnya.
Jika Negeri Thailand berani berkata "We Will Feed Asia" (Kami akan beri makan asia)
Semoga langkah bangsa Indonesia lebih nyata dari sekedar kata-kata.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar